Pengarahan dan Pembinaan Sekjen Kemenkes RI
Friday, 20 December 2013 12:14
Print
User Rating: / 0
PoorBest 

SEKJEN KEMENKES BERI PENGARAHAN PADA TIM PERUBAHAN
RS ORTOPEDI PROF.DR.R.SOEHARSO SURAKARTA

 

RS. Ortopedi Soeharso Surakarta,

 

Foto BersamaKomitmen Direksi untuk menuju perubahan benar-benar telah dijalankan. Setapak demi setapak RS Ortopedi berbenah diri dengan berbagai upaya dan salah satunya dengan pelatihan untuk mendukung mempercepat perubahan, misalnya pelatihan Akuntansi, Keuangan dan Marketing oleh Konsultan dari PT. Garuda Indonesia Bp. Joni S, Bedah Renstra oleh Dr. Veriyanto Sitinjak, serta Pelatihan Pendidikan.

 

 

 

Sambutan DirutTidak main-main, untuk mewujudkan arah menuju perubahan RS. Ortopedi meminta arahan dan masukan dari Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI yang terlaksana pada hari Sabtu, 6 Desember 2013 di Ruang Auditorium, lantai 3 RS Ortopedi. Hal itu disampaikan Direktur Utama; Dr.dr. Agus Hadian Rahim, Sp.OT(K) M.Epid,MH.Kes dalam sambutannya, antara lain mengatakan, “Rumah Sakit ini menuju perubahan dan tahun depan sudah dimulai operasional Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mulai diberlakukan pada 1 Januari 2014, bedah Renstra yang merevisi VISI Rumah Sakit dengan slogan VISI baru yaitu Rumah Sakit Ortopedi yang Profesional dalam pelayanan dan Pendidikan yang berbasis Tehnologi Informasi tahun 2018, penyusunan program IT Mandiri dengan memantau kegiatan lewat smartphone, bagaimana keadaan rawat jalan dan rawat inap untuk BOR dan dimulainya Polikinik Sore dan Sabtu Pagi. Komitmen selanjutnya, jam kerja yang lebih pagi yaitu pk. 07.00 WIB sehingga pelayanan dapat dimulai lebih awal mengingat Rumah Sakit Ortopedi pasiennya banyak dari luar kota bahkan luar propinsi. Instalasi Gawat Darurat (IGD) agar bekerjasama dengan Dinas Kesehatan untuk tanggap darurat bencana alam dan 3 bulan lagi RS. Ortopedi akan dievaluasi lagi dan bulan Juni akan dilakukan akreditasi, mohon doa restunya, itulah prioritas untuk meningkatkan mutu pelayanan.”

 

Arahan Sekjen Kemenkes RIPesan dan arahan RS. Ortopedi menuju perubahan disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI; Dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS dalam pidatonya yang bertema Revitalisasi Budaya Mutu menuju Rumah Sakit Berstandar Internasional, antara lain sebagai berikut :

  1. Rumah Sakit ini akan JCI atau tidak yang penting berubah, apapun itu buktikan bahwa Rumah Sakit ini bisa berubah. Saat ini standar International yang diterapkan masih dari JCI namun yang akan datang standar International yang diterapkan dari KARS. Jangan mengganggap bahwa yang bisa hebat hanya Rumah Sakit yang berlokasi di Jakarta. Sebenarnya lokasi di Daerah tidak masalah, jadi tidak ada alasan untuk tidak maju. Memang yang diterapkan di kita JCI tetapi kita sekarang sudah menuju Standar International dari KARS. Tadinya banyak Pejabat yang dulu apriori apa ide ini bisa dijalankan di Rumah Sakit Pemerintah. Nyatanya sekarang RSCM bisa bahkan sekarang sudah ada yang berproses selain RSCM, ada Rumah Sakit lain yang menerapkan ISO, kuncinya yang penting harus fokus pada produk dan profesinya. Segera dimulai walaupun selangkah demi selangkah untuk menuju Rumah Sakit kelas dunia Berubah dimulai dari budaya biasanya diawal-awal tantangannya luar biasa, banyak yang berfikir sekarang sudah banyak pasien kenapa harus JCI, apa pentingnya? Hal-hal seperti inilah yang harus bisa berubah. Perubahan budaya kunci utama dari semuanya baik level Direksi, Pejabat maupun bawahan, tidak ada gunanya hanya level tertentu, harus berani mengambil resiko, detail dan berorientasi output outcome. Perubahan jangan harap spontan perlu tahapan dalam perubahan dimulai dari diri sendiri, contohnya tentang Jaminan Kesehatan Nasional  (JKN) yang akan diterapkan mulai 1 Januari 2014 harus dipahami dulu mana saja yang dianggap peserta JKN, karena JKN menyangkut orang banyak terutama masyarakat miskin dan tidak mampu. Siapa peserta jamkesmas?  Yaitu miskin dan tidak mampu. Tidak mampu juga masuk miskin atau mendekati miskin sehingga dijamin jamkesmas.
  2. Untuk memenuhi kepuasan pelanggan kalau perlu ada suster senior (customer service) kerjanya keliling dan begitu ada gelagat pasien tidak nyaman langsung diperhatikan, ada sentuhan, didekati, baca bahasa tubuh pasien, pasien perlu apa, apa yang dibutuhkan bantu total jangan setengah-setengah, lakukan penuh perhatian dan empati. Customer service harus total, harus berani berbeda dengan Rumah Sakit  lain bahkan memberikan pelayanan lebih yang dibutuhkan pasien, sehingga pasien akan mencari dimana Rumah Sakit yang tidak sekedar produknya unggulan tetapi pengelolaan SDM yang mampu berkomunikasi, kepedulian dan empati ke pasien, inilah sisi kelemahan kita, di komunikasi. Siapapun kita harus peduli menyapa kepada pelanggan/pengunjung RS, Direksi mengunjungi yang sakit sesuatu yang kita anggap bukan luar biasa tetapi diterima luar biasa, mereka tidak akan terlupakan makin rendah kedudukannya paling tersentuh itu bagian dari support kita terhadap pelanggan.
  3. Perubahan yang diharapkan tidak kalah pentingnya yaitu ciptakan komunikasi, kepedulian dan empati petugas kepada pasien sehingga pasien merasakan pengalaman yang luar biasa setelah berkunjung ke RS. Ortopedi. Yang tidak kalah pentingnya, masalah komunikasi petugas dengan pasien, bagaimana kepedulian kita dan empati, contoh kasus Dr. Ayu, SpOG, di satu sisi proses hukum tetap berjalan tetapi yang penting jadikan itu suatu pelajaran, dimana masyarakat sekarang sudah berubah tidak seperti dahulu, kita perlu introspeksi bahwa kita sudah tidak hidup di zaman dulu. Kita merupakan wilayah yang mudah tersentuh hukum sehingga patien safety tidak ada tawar menawar, pasien selamat, kita juga selamat.
  4. Dalam hal pelayanan, kita sekarang tertinggal, namun belum terlambat masih bisa dikejar yaitu dengan fokus pada profesinya khusus Ortopedi, sedang profesi yang lain harus konsisten terus mendukung pelayanan Ortopedi dengan unggulannya, dan harus mampu menonjolkan salah satu pelayanan yang dianggap bisa mewakili yang lain yang benar-benar diunggulkan sehingga dicari pelanggan dan pelanggan tidak lari ke Luar Negeri. Rumah Sakit Ortopedi, harus ditingkatkan menjadi RS Pendidikan Nasional bahkan Internasional, untuk mempercepatnya harus melakukan kerjasama, bila ada bimbingan jangan gengsi, Rumah Sakit mempunyai Rumah Sakit pengampu yang bertaraf Internasional, sehingga kalau bicara Teknologi Ortopedi maka RS. Ortopedi Soeharso tempatnya. SIRS, untuk penyusunan data dikelompokkan unsur kesamaan bentuk, data harusnya disusun yang bisa dihubungan dengan data lain sehingga sinkron dan mudah di akses.
  5. Untuk menentukan Visi Misi perlu dilakukan analisa SWOT sehingga benar-benar sesuai dengan kondisi saat ini.
  6. Dalam menyusun anggaran akhir tahun, tidak akan bisa menilai kinerja kita dengan benar kecuali perencanaan harus dibalik, apakah target output outcome nya, sangat sederhana, termasuk pelayanan harus ada kajian dan ada analisa situasi di setiap satuan kerja.
  7. Harus ada mimpi yang sama dan harus berani mimpi, hasilnya kadang kita akan surprise pada diri sendiri.
  8. Kadang di manajemen memerlukan sentuhan dan memerlukan power agar didukung sekaligus juga ditaati.
  9. Bila menjadi Pimpinan jangan punya musuh, justru musuh harus didekati, dirangkul sehingga karena kebaikan kita justru dia orang yang mendukung kita.
  10. Situasi lingkungan kerja, manajer yg kreatif harus selalu berfikir 5W 1H (who, what, where, when, why, how) maka kita akan kritis dan sentisitif terhadap suatu masalah.

 

pesertaSetelah acara tanya jawab, kegiatan ini diakhiri contoh-contoh bagaimana seharusnya Pimpinan yang bisa menjadi suri tauladan dan menghindari Pimpinan yang tidak memcerminkan Pimpinan yang baik.

 

(Hukormas)