Home
HARI KESEHATAN SEDUNIA
Thursday, 11 April 2013 14:59
PDF Print E-mail

PEKAN HARI KESEHATAN SEDUNIA
RS ORTOPEDI RAMAIKAN DENGAN KEGIATAN PEDULI HIPERTENSI

 

RS. Ortopedi Soeharso Solo,

Periksa Tekanan DarahBertepatan dengan Hari Kesehatan Sedunia, Kementerian Kesehatan RI mewajibkan agar setiap Institusi Kesehatan di Lingkungannya berpartisipasi dengan tindakan konkrit. Bertemakan "Waspadai Hipertensi, Kendalikan Tekanan Darah", Pekan Kesehatan Sedunia yang dicanangkan mulai tanggal 7-14 April 2013 ini memiliki tujuan untuk memberi pemahaman orang guna menyadari perlunya mengetahui tekanan darah mereka, memberi perhatian serius pada tekanan darah tinggi dan kemudian melakukan pemantauan.

 

 
Mari Memahami Rumah Sakit
Tuesday, 26 March 2013 11:12
PDF Print E-mail

 

Saat ini, Rumah Sakit menjadi sasaran hujatan publik. Ungkapan “orang miskin dilarang sakit” merupakan sindiran sekaligus cibiran publik terhadap pelayanan rumah sakit. Kabar penolakan pasien miskin hampir tiap hari menjadi judul berita media massa.

 

 

Manusia macam apa yang tak tersayat hatinya membaca berita bayi Dera yang meninggal dunia (dikesankan) setelah ditolak rumah sakit. Digambarkan pula kondisi keluarga Dera yang hidup sederhana dan miskin. Maka tak bisa dibendung opini dan persepsi yang terbentuk bahwa ditolaknya bayi Dera karena tak mampu bayar pengobatan akibat kemiskinan keluarganya. Ungkapan “orang miskin dilarang sakit” pun seakan menemukan pembenarannya.

 

Kebanyakan masyarakat tampaknya beranggapan bahwa setiap rumah sakit mampu melakukan seluruh tindakan medis. Banyak orang mengira bahwa pasien yang datang ke rumah sakit harus selamat dan sembuh. Mayoritas publik berharap bahwa rumah sakit dapat menyelesaikan semua permasalahan kesehatan pasien. Dan ketika anggapan, perkiraan dan harapan masyarakat itu tak tercapai menjadi kenyataan, maka kekecewaan, kemarahan dan caci maki publik tertumpah kepada rumah sakit. Rumah sakit dicap tak punya hati nurani, komersial dan berpihak kepada masyarakat miskin.

 

Faktanya, apakah seperti itu kecenderungan rumah sakit Indonesia? Untuk sampai pada jawaban atas pertanyaan itu, mari kita fahami bagaimana mekanisme kerja di rumah sakit.

 

Indonesia ini sangat mulia sekali bahwa rumah sakit dilarang menolak pasien dalam keadaan kegawatdaruratan. Tak peduli seberapa besar kecilnya rumah sakit harus mampu menangani pasien gawat darurat. Dengan begitu secara sadar atau tidak sadar, muncul persepsi bahwa jika pasien yang sudah masuk unit gawat darurat rumah sakit harus tertolong. Sehingga meskipun respon terhadap kegawatdaruratan telah dilakukan dan ternyata pasien harus dirujuk ke rumah sakit lain, timbulkan kekecewaan dari pasien atau keluarganya. Dan celakanya, alasan tak tersedianya fasilitas pelayanan terlanjur dipersepsikan oleh publik sebagai cara rumah sakit menolak pasien.

 

Kita lupa, atau masyarakat tidak tahu bahwa kemampuan dan fasilitas rumah sakit itu berbeda. Ada rumah sakit yang mampu menangani berbagai macam penyakit dan kondisi pasien dengan banyak tindakan medis spesialis dan subspesialis. Rumah sakit semacam ini dikategorikan kelas A atau kelas B. Jumlah rumah sakit kelas A dan B tidak banyak. Namun ada pula rumah sakit dengan fasilitas dan kemampuan layanan spesialis umum dan pelayanan medik dasar saja, yang dikategorikan rumah sakit kelas C dan kelas D. Rumah sakit inilah yang sebagian besar ada disekitar kita.

 

Kemampuan dan fasilitas pelayanan rumah sakit ini tergambar dari pelayanan gawat darurat, rawat jalan dan rawat inap. Bicara fasilitas pelayanan bukan semata ketersediaan tempat tidur (bed) dan ruangan. Tetapi juga kesiapan tenaga, peralatan, perlengkapan dan sistemnya. Tidak mudah untuk menyediakan layanan spesialis dan subspesialis. Perlu investasi sangat besar dalam penyediaan fasilitas pelayanan intensif.

 

Kembali pada persoalan diatas; rumah sakit telah melaksanakan pelayanan kegawatdaruratan sesuai kemampuannya namun berdasarkan indikasi medis pasien harus dirujuk, apakah berarti bisa disebut rumah sakit menolak pasien? Tidak. Justru rumah sakit wajib merujuk pasien yang tak dapat ditangani ke rumah sakit yang mempunyai kemampuan dan fasilitas pelayanan lebih baik. Artinya, di satu sisi rumah sakit wajib melayani pasien dalam kegawatdaruratan tetapi disisi lain rumah sakit juga wajib merujuk pasien yang tidak dapat ditangani. Sungguh ini bukan persoalan sederhana.

 

Bisa dibayangkan, dalam suasana “eforia” pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi orang miskin seperti Kartu Jakarta Sehat dilaksanakan sebagai janji politik, dimana ratusan bahkan ribuan pasien mendatangi rumah sakit, termasuk gawat darurat, kemungkinan satu atau dua pasien miskin tak terpuaskan.

 

Ini baru halaman pertama, kita akan bahas lebih lanjut tentang rumah sakit dan permasalahannya pada postingan berikutnya.

 

Sumber:

http://anjaris.me/mari-memahami-rumah-sakit/

 
Peresmian Bangsal Kelas I-VIP
Thursday, 28 February 2013 14:26
PDF Print E-mail

TUMPENGAN MENANDAI KEPINDAHAN BANGSAL BARU
RUMAH SAKIT ORTOPEDI PROF. DR. R. SOEHARSO SURAKARTA

 

RS. Ortopedi Soeharso Solo,

Penyerahan TumpengBukti keseriusan RS.Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat khususnya pasien rawat inap, adalah dibangunnya Gedung rawat inap klas I dan II. Gedung tersebut bersebelahan dengan gedung rawat inap klas III yang telah terlebih dulu diresmikan oleh Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI pada September 2010 yang lalu.

 

 
Awas Kanker Tulang!
Thursday, 21 March 2013 11:27
PDF Print E-mail

WASPADAI SETIAP BENJOLAN

Awas Kanker Tulang...Tulang Mudah Patah Tanpa Sebab!

(dr. Mujaddid Idulhaq, SpOT)

 

Pemeriksaan Pasien Kanker TulangPenyakit kanker merupakan momok bagi siapa pun. Tidak terkecuali kanker tulang yang mungkin tidak terlalu akrab dengan masyarakat. Pasalnya, dibandingkan dengan jenis kanker lainnya, angka kejadian pasien kanker tulang tidak sebanyak kanker lainnya. Akan tetapi, penyakit satu ini harus tetap diwaspadai karena fakta menunjukkan kebanyakan pasien datang ke dokter setelah kanker yang dideritanya sudah berada pada stadium lanjut.

 

 
PIR PERDOSRI
Monday, 28 January 2013 14:10
PDF Print E-mail

 

PERTEMUAN ILMIAH REGIONAL PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI INDONESIA (PERDOSRI) CABANG JATENG & DIY

19-20 JANUARI 2013

RS. Ortopedi Solo,

Pertemuan Ilmiah Regional PERDOSRIPertemuan Ilmiah Regional (PIR) PERDOSRI Jawa Tengah & DIY tahun 2013 dilaksanakan pada tanggal 19-20 Januari 2013 dengan mengambil tempat di Auditorium lantai 3 RS.Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta. Kegiatan ini merupakan ajang pertemuan Ilmiah akhbar bagi Dokter-Dokter Spesialis Kedokteran Fisik & Rehabilitasi (Sp.KFR) adalah diagendakan rutine setiap tahun. Untuk tahun 2013 ini diselenggarakan di Solo berupa seminar Hands on Workshop dengan topic “Comprehensive Management of Pediatric Problems

Ketua Panitia PIR PERDOSRI tahun 2013 Dr. Komang Kusumawati, Sp. KFR MPd mengatakan : ” Pertemuan ini juga Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dan kompetensi diperlukan usaha yang tanpa henti dari kalangan medis untuk terus berpacu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam melayani masyarakat. Dengan makin tingginya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan masalah kesehatan, maka kelainan yang terjadi pada anak mendapat perhatian yang tinggi dari orangtuanya”.

 

 
<< Start < Prev 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 Next > End >>

Page 54 of 68

PBAK & Gratifikasi

Polling

Pendapat Anda tentang pelayanan kesehatan di RSOS
 
Pendapat Anda tentang pelayanan petugas RSOS
 
Pendapat Anda tentang fasilitas dan sarana kesehatan di RSOS
 

RSO on Facebook

Visitors Counter

091209
TodayToday1450
YeserdayYeserday1640
This WeekThis Week9667
This MonthThis Month39693
All DaysAll Days91209
162Dot158Dot63Dot210