Home Artikel High Heels : Penampilan VS Kesehatan
High Heels : Penampilan VS Kesehatan
Thursday, 09 July 2015 08:27
PDF Print E-mail

High Heels : Penampilan VS Kesehatan

 

RS. Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, 

 

Bagi kaum hawa, penampilan fisik adalah keharusan saat keluar rumah, terutama saat berkumpul dengan teman baik di acara formal maupun santai. Berawal dari persepsi itulah, perempuan berusaha untuk menutupi kekurangan fisiknya. Mereka selalu menggunakan make up untuk menjadikan wajahnya rupawan, baju agar terlihat glamor dan elegan, serta perlengkapan penunjang, yakni sandal maupun sepatu.

 

 

Khusus alas kaki, para wanita menggunakan sepatu/sandal hak tinggi untuk mempertegas tinggi badan. Ini dipertegas dengan hasil penelitian yang mengungkapkan tiga per empat perempuan di Indonesia pernah atas suka memakai sepatu/sandal hak tinggi. Dari jumlah itu, 30 persen penggunaannya untuk urusan kantor. Sementara sisanya yang sepertiga tidak pernah dan tidak mau menggunakan alas kaki yang berhak tinggi itu.

 

 

 

Biasanya, perempuan akan lebih percaya diri melihat tubuhnya tinggi semampai. Maka, tak jarang banyak lawan jenis adam itu menopang tinggi badanya dengan high heels. Oleh karena itu, semua model juga selalu menggunakannya agar terlihat lebih tinggi. Namun, sebenarnya tindakan mereka menggunakan alas kaki dengan hak tinggi itu membahayakan kesehatannya tidak?

 


Dokter spesialis Ortopedi dan Traumalogi RS Ortopedi Dr Soeharso Surakarta, dr. Anung Budi Satriadi Sp. OT (K) mengatakan upaya untuk mempercantik diri lebih menarik merupakan hak dari masing-masing perempuan. Tuntutan pekerjaan memang mengharuskan sejumlah perempuan menggunakan sepatu berhak tinggi. Namun, ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar tidak terlalu berdampak bagi kesehatan pemakainya.

 

 

Dokter spesialais ortopedi dan traumalogi RS Ortopedi Dr. Soeharso, dr. Anung Budi Satriadi mengatakan langkah yang bisa dilakukan yakni membatasi pemakaian. “Harus dibatasi. Memang tidak ada batas yang jelas berapa jam. Tapi jika sudah ada gejala nyeri, penggunaan sepatu hak tinggi harus dihentikan. Gunakan ketika memang benar-benar diperlukan,” katanya. Pasca pemakaian, Anung menyarankan agar menyarankan agar melakukan penanganan otot dengan cara push up namun menggunakan dinding sebagai tumpuan. Sementara itu, berat badan dipindahkan ke tangan sehingga kaki bisa bergerak ke depan dan belakang.

 

 

 

Menggunakan sepatu hak tinggi dalam jangka waktu lama bisa membahayakan kesehatan. Lebih lanjut, penggunaan sepatu hak tinggi mengakibatkan kaki bagian depan menopang berat badan lebih banyak dibandingkan dengan alas kaki yang datar. “Dari hasil penelitian, penggunaan sepatu/sandal hak tinggi 1 inci membuat tulang kaki depan menerima tambahan beban 20%. Sementara itu, sepatu dengan hak 2 inci menambah beban 60%, dan 3 inci sebesar 80% beban tambahan. Jadi, bisa dibayangkan jika hak sepatu/sandal Anda lebih dari itu,” kata dia saat dijumpai beberapa waktu lalu. Efek tersebut memang langsung bisa dirasakan oleh pemakai. Hal ini ditandai dengan usaha menjaga keseimbangan para pemakai, terutama dengan hak melebihi 3 inci.

 

 

Selain masalah tambahan beban pada kaki depan, penggunaan sepatu/sandal hak tinggi juga mengakibatkan otot betis memendek. Ini disebabkan tumit terangkat sehingga otot betis tidak merenggang. “Ketika perempuan menggunakan sepatu/sandal hak tinggi, memang efeknya lebih seksi. Karena tumit terangkat, maka badan akan menyesuaikan dengan tegak. Leher juga mendapatkan imbas untuk lebih mendongak. Tapi hal itu membuat otot betis menjadi pendek,” tegasnya. Tidak berhenti di situ, otot betis juga akan menjadi kaku sehingga menimbulkan rasa nyeri. Lutut bagian belakang juga akan nyeri karena harus ekstra keras menjaga keseimbangan tubuh saat memakai sepatu/sandal hak tinggi.

 

 

Perlu Operasi

Tulang belakang sang pemakai juga bakal merasakan dampak penggunaan alas kaki itu. Diantaranya tulang belakang akan terasa kaku dan nyeri. Kemungkinan juga dalam jangka waktu lama akan berubah fisiologi/bentuknya. “Ini lebih berbahaya dari rasa kaku dan nyeri. Jika tulang belakang mengalami perubahan bentuk, yakni pergeseran, maka membahayakan otot dan syaraf di dalamnya,” ujarnya.

 

 

Pasalnya, di dalam tulang belakang terdapat syaraf, otot, dan sumsum. Jika tulang belakang mengalami pergeseran, maka otomatis diisi oleh otot syaraf serta sumsum yang akan menyempit. “Dengan kata lain, otot tulang belakang akan terjepit. Ini yang berbahaya dan harus dilakukan operasi untuk mengembaikan bentuknya seperti semula,” tegasnya. Hanya saja, kasus pemakaian high heels yang berujung pada tindakan operasi masih sangat jarang. “Keluhan pasien biasanya nyeri dan kaku. Belum mengarah pada tindakan operasi,” kata dia. Lebih lanjut, Anung memaparkan penggunaan alas kaki yang memiliki hak tinggi sebenarnya mengganggu kesehatan. “Tuhan menciptakan tubuh manusia itu disertai fungsinya. Sehingga tidak memerlukan tambahan lagi. Jika ingin menjaga kesehatan kaki, pilihkan alas kaki yang menyesuaikan dengan bentuk kaki, yakni model datar,” ucapnya. Murniati

 

 

Sebaiknya Batasi Penggunaannya

 

Tuntutan pekerjaan memang mengharuskan sejumlah perempuan menggunakan sepatu berhak tinggi. Namun ada bebrapa tips yang bisa dilakukan agar tidak terlalu berdampak bagi kesehatan pemakainya. Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi RS. Ortopedi Dr. Soeharso, dr. Anung Budi Satriadi mengatakan langkah yang bisa dilakukan yakni membatasi pemakaian. Harus dibatasi. Memang tidak ada batas yang jelas berapa jam. Tapi jika sudah ada gejala nyeri, penggunaan sepatu hak tinggi harus dihentikan. Gunakan ketika memang benar-benar diperlukan,” katanya.  Pasca pemakaian, Anung menyarankan agar menyarankan agar melakukan penanganan otot dengan cara push up namun menggunakan dinding sebagai tumpuan. Sementara itu, berat badan dipindahkan ke tangan sehingga kaki bisa bergerak ke depan dan belakang. Murniati

 

 


 

 

 

 

Polling

Pendapat Anda tentang pelayanan kesehatan di RSOS
 
Pendapat Anda tentang pelayanan petugas RSOS
 
Pendapat Anda tentang fasilitas dan sarana kesehatan di RSOS
 

Visitors Counter

963522
TodayToday51
YeserdayYeserday757
This WeekThis Week51
This MonthThis Month26170
All DaysAll Days963522
54Dot162Dot47Dot106

RSO on Facebook