Home Artikel Operasi Kini Tidak Nyeri
Operasi Kini Tidak Nyeri
Tuesday, 07 July 2015 14:48
PDF Print E-mail

Operasi Kini Tidak  Nyeri

 

 

RS. Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta,

 

 

 

Operasi kini masih menjadi momok bagi sebagian besar orang. Selain takut pada jarum suntik dan pisau bedah, mereka juga khawatir bakal merasakan nyeri yang luar biasa pascaoperasi. Hal inilah yang terkadang membuat pasien menghindar, bahkan menolak ketika disodorkan opsi operasi oleh dokter yang menanganinya.

 

Pasalnya, nyeri itu subjektif dan tidak bisa dideteksi oleh dokter. Hanya pasien saja yang bisa merasakan

Dr. Hery B Sumaryono, Sp. An dokter anastesi RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta.

 

 

 

Secara garis besar, nyeri merupakan suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan, dan berkaitan dengan kondisi aktual atau potensial terjadinya kerusakan jaringan. Dalam teori spesifitas dinyatakan suatu cidera mengaktifasi reseptor dan serabut nyeri yang spesifik serta berubah membuat impuls-impuls nyeri dalam perjalanan dan medula spinaliske pusat nyeri di otak. Proses itulah yang membuat orang menyatakan nyeri. Namun, dokter anastesia RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, dr. Hery B Sumaryono, Sp. An mengaku manajemen nyeri menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam proses operasi. Di mana, setiap rumah sakit,

 

 

Termasuk tempat dimana dia mengabdi itu harus secepat mungkin mengatasi rasa nyeri dari pasien. Bahkan, ada juga RS sakit yang membebaskan para pasiennya dalam hal nyeri. Saat ini, pemerikasaan awal kepada pasien tidak hanya berupa respirasi (pernafasan), nadi, dan suhu saja, melainkan pada pemeriksaan nyeri. Pasalnya, selain terdiri dari kronik, nyeri juga bisa menjadi salah satu kondisi yang menyertai peyakit berat.

 


“Bisa juga nyeri itu karena jantung maupun hipertensi. Maka dari itu, dalam pemeriksaan awal biasanya dokter atau petugas medis menanyakan apakah pasien merasakan nyeri. Pasalnya, nyeri itu subjektif dan tidak bisa dideteksi oleh dokter. Hanya pasien saja yang bisa merasakan,” kata Heri kepada Joglosemar, beberapa waktu lalu. Selain harus segera ditangani, nyeri juga memiliki efek penambahan pembiayaan. Dengan asumsi, semakin lama pasien merasakan nyeri, maka dia di rumah sakit akan lebih lama dan otomatis pendannaan juga membengkak.

 


“Maka dari itu, kami berharap kepada pasien yang merasakan nyeri untuk mengatakan itu kepada petugas medis sehingga bisa ditangani secepatnya,” katanya lagi. Khusus kasus pada operasi, dirinya memaparkan tim dokter bakal berkoordinasi dalam hal mengatasi nyeri dengan gardu terdepan adalah dokter anastesi. “Biasanya sudah ada kadarnya dalam operasi. Dengan jumlah obat yang diberikan, pasien sudah tidak akan merasakan nyeri. Meski demikian, kami tetap melakukan observasi apakah nyeri tidak akan dirasakan lagi oleh pasien. Kalau masih dirasakan, maka pasien akan mendapatkan obat kembali,” ujar dia.

 


Kebanyakan kasus yang sudah ada, nyeri akan dirasakan pascaoperasi amputasi, torakotomi (bedah pembukaan rongga dada), masektomi (pengangkatan payudara), koleksistektomi (pengangkatan kantung empedu), herniotomi (operasi pembebasan kantong hernia sampai ke behernya), vasektomi (pemotongan saluran sperma, dan bedah mulut). Hanya saja tingkatan nyerinya berbeda-beda. Namun, pasien kini tidak perlu takut karena operasi saat ini tidak perlu merasakan nyeri. RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, pasca operasi pasien masih diisolasi dan dipantau apakah merasakan nyeri akibat pembedahan. Namun, Joglosemar berada di ruang Intebsive Care Unit (ICU), pasien yang usai melakukan operasi terlihat tenang. Tidak ada rintihan dari pasien, jadi bisa diasumsikan manajemen nyeri dapat dilakukan tim dokter sudah berhasil. “Kalau merasakan nyeri, maka pasti teriak-teriak. Buktinya mereka diam saja,” tegasnya. Murniati.


MEMBERI PENYADARAN PADA PASIEN

 

Dalam hal penanganan rasa nyeri pascaoperasi memang sudah ada tim yang menanganinya. Akan tetapi, hal itu tidak akan banyak membantu, jika dari pihak pasien sendiri tidak paham mengenai kondisinya. Oleh karena itu, pihak dokter selalu memberikan edukasi dan dorongan mental serta motivasi kepada pasien, bahwa nyeri tidak harus selalu diatasi dengan obat, melainkan dari pasien. Tujuannya, agar pasien tidak selalu menggantungkan pada obat. “Nyeri itu ada beberapa tingkatan dan sifatnya subjektif, Ujar dokter anastesia RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, dr. Hery B Sumaryono, Sp. An

Menurut penjelasannya, ada karakter pasien yang nyeri sedikit saja sudah berteriak-teriak. Tetapi ada juga pasien yang bisa menahan rasa nyeri tersebut, sehingga tidak mengatakan kondisi itu kepada petugas medis. “Jadi sebenernya kami tetap memberikan edukasi dan penyadaran kepada para pasien akan kondisi mereka, sebelum kita memberikan obat,” katanya lagi. Murnia

 

 

 

PBAK & Gratifikasi

Polling

Pendapat Anda tentang pelayanan kesehatan di RSOS
 
Pendapat Anda tentang pelayanan petugas RSOS
 
Pendapat Anda tentang fasilitas dan sarana kesehatan di RSOS
 

RSO on Facebook

Visitors Counter

102585
TodayToday360
YeserdayYeserday777
This WeekThis Week1137
This MonthThis Month23755
All DaysAll Days1025850
162Dot158Dot62Dot137