Home Artikel Anak Autis Alergi Terigu dan Susu Sapi
Anak Autis Alergi Terigu dan Susu Sapi
Tuesday, 07 July 2015 14:19
PDF Print E-mail

Anak Autis Alergi Terigu dan Susu Sapi

 

 

RS. Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta,

 

 


 

Setiap mendengar kata Anak Autis, sebagian besar langsung meng-judge sebagai anak yang memiliki keterbelakangan mental. Anggapan tersebut tidak semuanya salah, namun ada yang harus diluruskan. Autis pada dasarnya adalah sebuah gangguan syaraf yang kompleks dan ditandai dengan kesulitan dalam hal berkomunikasi dengan orang lain

 

 

Psikolog RS Ortopedi Prof Dr R Soeharso Surakarta, Dra. Dian Kristiawati, Msi, Psi mengungkapkan, anak autis yang tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain tidak selalu bodoh.Pasalnya, anak autis yang memiliki inteligence qoutient (IQ) yang rendah, namun ada juga yang sangat tinggi bahkan melebihi manusia pada umumnya. “Autis tidak bisa langsung disebut idiot atau bodoh. Karena memang banyak kasus yang menunjukan jika autis yang sangat pandai juga banyak. Hanya saja, bedanya padapola komunikasinya saja. Komunikasi anak autis berbeda dengan anak-anak pada umunya, “ Katanya kemarin.

 

Dituturkan dia, saat ini memang belum bisa dipastikan penyebab anak menjadi autis. Namun, ada beberapa dugaan yang mencul. Yakni faktor keturunan, namun itu sangat kecil. Kedua, karena keracunan timbal, dan infeksi dari virus Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, danHerpes (TORCH). “Itu hanya dugaan karena belum ada penelitian lebih lanjut mengenai hal itu, “ katanya.

 

mi juga butuh ketelatenan dari orangtua dalam mendampingi anak

Dra Dian Kristyawati, MSi Psi

Psikolog RS Ortopedi Prof Dr R Soeharso Surakarta

Para ibu harus tanggap dan cermat melihat perkembangan anaknya. Autis dapat dilihat dari perilaku anak yang mengalami keterlambatan perkembangan. Baik fisik maupun mental. Biasanya, hal ini ditandai dengan terlambat bicara. Selain itu, anak autis tidak bisa berkonsentrasi seperti anak kebanyakan. Ini bisa dilihat saat anak sudak memasuki usia sekolah.

 

“Anak autis bisa saja teriak-teriak sendiri di kelas. Padahal, itu di tengah-tengah pelajaran. Mereka juga senang bergerak dan sulit dikendalikan. Bahkan, hal yang mencolok dari anak autis adalah mereka tidak mau mengulangi hal-hal yang pernah mereka pelajari, “ujarnya.“Ibu harus secepatnya memeriksakan anak yang memiliki ciri seperti itu. Karena semakin cepat terdeteksi, maka semakin cepat pula pengobatannya, “ tegasnya. Sebelum mendiagnosa seorang anak autis, dokter ataupun psikolog terlebih dahulu melakukan pemerikdssn yang meliputi observasi, perilaku, dan intelegensi. “Kalau dua hal itu sudah masuk, maka anak itu bisa dikatakan autis, “ katanya.

 

Soal usia Dian, mengaku tidak semuanya diperiksakan sejak kecil. Ada yang memeriksakan diusia enam bulan tapi ada juga yang 20-an tahun. Namun, dirinya menekankan jika autis ini masih bisa disembuhkan dan anak yang bersangkutan bisa seperti orang normal. “Tidak bisa seratus persen pulih seperti anak-anak kebanyakan. Kami juga butuh ketelatenan dari orang tua dalam mendampingi anak,” tegasnya. Selain terapi, anak autis juga diharapkan tidak mengonsumsi tepung terigu dan susu sapi. Pasalnya, mereka alergi pada dua bahan makanan itu. Jika mengkosumsinya, anak cenderung hiperaktif dan sulit dikendalikan. “Ini seperti alegi pada susu sapi dan tepung terigu. Makanya, anak autis disarankan tidak makan roti. Kalau susu, biasanya diganti dengan susu kedelai. Karena pada dasarnya mereka alergi pada protein yang mampu meningkatkan kinerja metoriknya,” katanya. Oleh karena itu, pihaknya selalu menghimbau kepada orang tua yang memiliki anak autis untuk menghindarkan dua bahan makanan itu. Peran orang tua dalam melakukan pendampingan terhadap anak juga sangat penting. “Kalau terapi di rumah sakit atau klinik anak berkebutuhan khusus, kan jamnya terbatas. Artinya, paling banyak memang di rumah. Jadi, para orang tua harus sering mengajarkan anak-anaknya untuk melatih motoriknya,” ujar dia.

 

ORANG TUA TAK PERLU MALU

Sebagian orang tua yang memiliki anak autis cenderung minder. Mereka merasa malu kalau orang lain mengetahui kelainan syaraf yang terjadi pada anaknya. Padahal, menurut psikolog RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, Dra. Dian Kristyawati, Msi, Psi, hal itu tidak perlu dilakukan lagi.

“Masih ada orang luar yang malu. Ini terbukti dengan adanya anak autis pada usianya sudah lebih dari 20 tahun. Kami pun harus melakukan terapi ekstra karena usianya sudah terlampau dewasa,” katanya.

Jika tidak diterapi, nantinya anak itu akan sulit jIka sudah memasuki dunia usaha. Karena pada dasarnya anak autis memang tidak bisa berkomunikasi dengan baik.“Padahal, di dunia kerja perlu komunikasi dan koordinasi dengan orang lain. Makanya, anak autis harus diterapi sejak dini sehingga presentase kesembuhannya juga besar, “ ujarnya. (Disadur dari Harian Joglosemar)

 



 

 

 

 


 

 

 

PBAK & Gratifikasi

Polling

Pendapat Anda tentang pelayanan kesehatan di RSOS
 
Pendapat Anda tentang pelayanan petugas RSOS
 
Pendapat Anda tentang fasilitas dan sarana kesehatan di RSOS
 

RSO on Facebook

Visitors Counter

110778
TodayToday69
YeserdayYeserday801
This WeekThis Week5594
This MonthThis Month24459
All DaysAll Days1107789
162Dot158Dot63Dot138