Home Artikel Berlubang Besar, Gigi Tak Harus Selalu Dicabut
Berlubang Besar, Gigi Tak Harus Selalu Dicabut
Monday, 06 July 2015 09:54
PDF Print E-mail

Berlubang Besar, Gigi Tak Harus Selalu Dicabut

 


RS. Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta,

 

 

Karies gigi atau sering disebut dengan istilah gigi berlubang termasuk salah satu masalah yang sering ditemui dalam kehidupan. Bahkan hampir sebagian besar dari kita memiliki masalah dengan gigi berlubang.

 

 

Ada sebagian dari masyarakat yang telah memiliki kesadaran terkait masalah gigi, sehingga saat memiliki gigi berlubang segera membawanya ke dokter gigi. Namun ada juga yang membiarkan giginya yang masih berlubang kecil, tanpa melakukan perawatan karena belum menimbulkan rasa sakit. Dan karena dibiarkan terus tanpa penanganan yang benar, gigi berlubang tersebut menjadi besar dan menimbulkan rasa yang sangat sakit. Namun meski sudah dalam kondisi parah, seperti itu ada yang tetap membiarkannya dengan alasan takut cabut  gigi atau bahkan karena alasan biaya.

 

Kondisi tersebut tidak dibenarkan, karena sakit gigi yang dibiarkan tanpa penanganan yang tepat bisa memungkinkan gigi mengalami infeksi. Dan infeksi tersebut bisa saja menyebar ke organ tubuh lain melalui peredaran darah. Untuk itu, gigi berlubang harus ditangani dengan tepat sesuai kondisinya. Gigi berlubang besar pun selama gigi belum mati, masih bisa diperbaiki.

 

 

Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi RS Orthopedi (RSO) Prof Dr Soeharso Surakarta, drg Ali Imron, SpKG, kepada Joglosemar mengungkapkan, gigi berlubang merupakan penyakit jaringan gigi yang mengalami kalsifikasi yang ditandai oleh demineralisasi dari bagian unorganik dan destruksi dari substansi organik dari gigi. Karies gigi ditandai dengan kerusakan jaringan dari permukaan gigi meliputi pit, fissure, daerah interproksimal dan meluas ke arah pulpa.

 

 

“Keadaan buruk atau masalah pada gigi yang sudah parah, bisa ditangani dengan baik oleh seorang dokter gigi spesialis konservasi gigi. Namun jika terjadi masalah pada gigi, maka penanganannya harus menunggu gigi tidak nyeri,” ungkapnya.

 

 

Sehingga pada konservasi gigi, untuk melakukan tindakan hampir dipastikan saat pasien mengeluh. Dan kenyataannya pasien yang datang ke dokter gigi hampir sebagian besar dengan keluhan nyeri pada bagian gigi yang sakit,” ujarnya. Ia mengatakan yang sering terjadi adalah pasien datang ke dokter saat giginya nyeri. Sehingga dokter tidak bisa melakukan penanganan secara langsung. Dan sangat sedikit masyarakat yang datang ke dokter saat giginya tidak mengalami nyeri.

 

 

Begitu pula penanganan pada kasus karies gigi, bisa dikatakan tidak ada kontra indikasi untuk menanganinya. Karies gigi terjadi dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu karbohidrat, gigi yang rentan, waktu dan plak atau bakteri. Beberapa faktor tersebut saling berkaitan untuk kemudian menjadikan gigi berlubang. Berdasarkan lokasinya, gigi berlubang dibagi menjadi dua yaitu karies fit dan fisur, serta karies di permukaan yang halus.

 

 

Sedangkan berdasarkan struktur jaringan yang terkena, karies gigi terdiri dari karies superficialis (permukaan gigi paling luar),karies media (dentin awal), dan karies profunda (pulpa). Kemudian karies gigi berdasarkan waktu terjadinya adalah karies primer dan karies sekunder. Lalu karies berdasarkan tingkat progresivitasnya, ada karies akut, karies kronis dan karies terhenti. Dari jenis karies tersebut, kebanyakan yang terjadi pada masyarakat adalah karies berdasarkan struktur jaringannya yang terkena yaitu superficialis, media dan profunda.

 

 

Drg.Ali menuturkan, meskipun tampaknya sama-sama karies gigi, namun penangan karies gigi berbeda-beda. “Karies gigi yang sering terjadi adalah karies email (suerficial), karies denting (media), pulpitis yang reversible dan irreversible, serta gangren atau nekrosis pulpa yaitu gigi yang sudah mati,” papar drg.Ali.

 

 

Menurut drg.Ali gigi berlubang sebisa mungkin tetap dipertahankan dan tidak dicabut. Untuk itu, ada beberapa jenis penatalaksanaan atau cara penanganan karies gigi untuk masing-masing kondisi. Di antaranya yakni penambalan (filling) seperti yang sering dilakukan oleh banyak orang. filling dilakukan untuk progres karies gigi. Selain filling perawatan yang bisa dilakukan  adalah perawatan saluran akar/ PSA (Root Canal Treatment) yang dilakukan apabila karies sudah mengenai pulpa. Hasil akhir dari PSA adalah terbangunnya sebuah restorasi gigi.

 

 

Sedangkan penatalaksanaan lainnya yakni bedah endodontik yang dilakukan pada kasus tertentu. Bedah endodontik dilakukan di mana mahkota gigi masih bagus, tapi pada akar gigi terdapat infeksi. Lalu ekstraksi yang merupakan pilihan terakhir dalam penatalaksanaan karies gigi. Ekstraksi dilakukan bila jaringan sudah sangat rusak dan tidak memungkinkan ditambal. Maka dari itu, penanganan karies gigi harus disesuaikan dengan kondisinya. Namun tidak perlu khawatir, untuk penanganan karies gigi pada konservasi gigi sebisa mungkin gigi tetap dipertahankan.  (Disadur dari Harian Joglosemar)

 

PBAK & Gratifikasi

Polling

Pendapat Anda tentang pelayanan kesehatan di RSOS
 
Pendapat Anda tentang pelayanan petugas RSOS
 
Pendapat Anda tentang fasilitas dan sarana kesehatan di RSOS
 

RSO on Facebook

Visitors Counter

117855
TodayToday232
YeserdayYeserday1017
This WeekThis Week1249
This MonthThis Month19330
All DaysAll Days1178559
162Dot158Dot79Dot175