Home Artikel Tujuan Tes IQ Telah Bergeser
Tujuan Tes IQ Telah Bergeser
Wednesday, 27 May 2015 15:22
PDF Print E-mail

TUJUAN TES IQ TELAH BERGESER

 

 

RS ORTOPEDI SOEHARSO SURAKARTA,


Tes intelegensia atau lebih dikenal dengan Intelegent Quotient (IQ), kini begitu populer. Tes tersebut semula bertujuan untuk mengetahui kecerdasan dan kematangan otak masing-masing anak. Namun dalam perkembangannya, telah terjadi pergeseran tujuan tes IQ. Salah satu contohnya, ada sekolah favorit yang mensyaratkan hasil IQ dalam penerimaan siswa baru.

Psikolog RS. Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, Dra. Dian Kristyawati, M.Si, Psi melihat, memang telah terjadi pergeseran tujuan tes IQ. Di sekolah, tes tersebut lebih cenderung menyingkirkan anak yang nilai tes intelegensinya di bawah standar. Yang menyedihkan lagi, ada sebagian orang tua yang memaksakan anaknya untuk sekolah. Padahal menurut dia, belajar anak itu memiliki waktu tersendiri.

 


“Ada beberapa kasus di mana orangtua ingin memasukkan anaknya ke jenjang SD. Padahal usianya baru 5 tahun dan ini memang sudah banyak terjadi di lapangan. Padahal, jika dirunut mengenai masa kembang anak, usia segitu belum waktunya untuk memasuki tingkatan SD,” katanya kepada Joglosemar, kemarin. Kenapa belum tepat, Dian mengungkapkan bukan hanya dari sisi usia, melainkan kematangan otak anak. Usia 5 tahun menurutnya adalah masa emas perkembangan anak. “Usia segitu anak masih dalam tahap mengenal dan psikologisnya belum matang untuk belajar di tingkatan SD. Ini dikuatkan dengan peraturan pemerintah yang menytakan jika anak usia 7 tahun baru bisa masuk ke jenjang SD,” ujarnya. Di usia 7 tahun, anak sudah matang dalam hal pemikiran. Mereka juga sudah mengerti tugas-tugasnya.

 


“Kita bisa melihat perbedaan anak usia 7 tahun dan 5 tahun yang sama-sama masuk ke jenjang SD. Anak yang usia 5 tahun cenderung mogok untuk belajar. Mereka lebih senang bermain,”katanya. Jika anak dipaksakan memasuki jenjang pendidikan yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan, maka dapat mengakibatkan trauma, ketakutan dan cemas selama di sekolah. “Anak itu biasanya suka nangis, ketakutan karena berpisah dari orangtuanya. Jika itu tetap berlangsung, maka bisa mempengaruhi pertumbuhan anak,” ungkapnya.

 


Tidak hanya itu, efek jangka panjang juga akan timbul dari diri anak tersebut. Di saat sudah dewasa dan masuk ke dunia kerja, anak itu akan sulit bekerjasama dengan orang lain. “Dia cenderung egois,”tegas dia. Hanya saja, kasus orangtua yang memasukkan anak di bawah 7 tahun ke tingkatan SD itu sangat banyak. Langkah tersebut dilakukan para orangtua sebagai bentuk eksistensi diri dan juga ingin menunjukkan jika anaknya pandai.

 


“ Biasanya mereka berpikir kalau anak masih kecil tapi sudah masuk SD, itu jadi kebanggaan tersendiri. Ya bisa dikatakan gengsi. Tapi langkah mereka harusnya ditempuh dengan mempertimbangkan aspek psikologis anak. Apakah anak sudah mampu dan matang belajar di jenjang SD atau belum. Jangan samapai anak dipaksakan,” tegasnya.

 


Dibedakan.

Menanggapi hal itu, Dian memberikan tips khusus bagi guru saat mengajar. Agar tidak menambahi beban psikologis anak, guru hursnya memberikan perlakuan khusus pada anak yang usianya di bawah 5 tahun.

 


“Semisal guru sedang mengajar dan anak yang usianya di bawah standar asyik main, jangan menyebut anak itu nakal dan sebagainya. Guru juga harus memahami psikologis anak usia itu. Kalau sudah disebut nakal, maka anak itu akan lebih tertekan dan bisa jadi mogok belajar,” tegasnya. Dia menekankan kecerdasan anak itu tidak ditentukan oleh favorit atau tidaknya sekolah. Hal itu disebabkan standar sekolah formal dan metodenya telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. “Yang menentukan adalah masa-masa emas perkembangan anak, yakni usia 0-5 tahun. Di masa itu, biarkan anak bermain dan berekspresi dengan apa yang mereka inginkan,” terangnya.

 

 

Disadur dari: Harian Joglosemar, Sabtu 23 Mei 2015

 

 

 

PBAK & Gratifikasi

Polling

Pendapat Anda tentang pelayanan kesehatan di RSOS
 
Pendapat Anda tentang pelayanan petugas RSOS
 
Pendapat Anda tentang fasilitas dan sarana kesehatan di RSOS
 

RSO on Facebook

Visitors Counter

117855
TodayToday232
YeserdayYeserday1017
This WeekThis Week1249
This MonthThis Month19330
All DaysAll Days1178559
162Dot158Dot79Dot175